Kamis, 13 Oktober 2016

Keahuilah Berbagai Macam Biaya Jasa Pengiriman Barang



Ongkos kirim Jakarta ekpedisi Jakarta bali - Apakah kalian suka menggunakan jasa pengiriman barang? Bagi yang tahu tentu pastinya tak asing lagi kan! Yaps sekarang banyak sekali jenis dan layanan jasa pengiriman barang yang bisa kalian gunakan sesuai dengan kebutuhan anda. Namun seiring berjalannya waktu dan kebutuhan tentu kita harus lebih teliti dan jelih dalam pengeluaran, namun pada saat mengirim paket anda tidak mengetahui berapa biaya yang harus anda keluarkan untuk mengirim paket tersebut, kali ini saya akan berbagai informasi mengenai ongkos kirim paket sesuai dengan kebutuhan anda!
1. Biaya kirim Progresif
Yaitu ongkos kirim yang di hitung berdasarkan berat paket barang anda secara flat. Makin berat paket ini ,maka ongkos kirim nya makin besar juga. Namun jika ongkos kirim ke suatu tempat ditetapkan Rp 5 ribu/kg, dan anda akan mengirim paket sebesar 5kg, maka ongkos kirim yang harus anda bayar adalah (5x5 ribu) Rp 25 ribu. Pada umumnya perusahaan jasa kurir menerapkan tarif progresif ini, misalnya TIKI, JNE, DHL, Pandu Logistic, dsb.
2. Biaya kirim  regresif
Yaitu ongkos kirim yang di hitung secara flat berdasarkan berat total paket, maka pada tarif regresif ini, ongkos kirim akan di tetapkan berdasarkan perhitungan ongkos minimal (minimun charge). Paket sampai dengan berat tertentu, ongkos kirimnya tetap, tetapi selebihnya dihitung dengan nominal tertentu yang lebih kecil. Sehingga makin berat paket, perhitungan ongkos kirimnya menurun, sehingga disebut regresif.
Contohnya ongkos kirim ke suatu tempat ditetapkan Rp 25 ribu untuk berat paket 5 kg pertama, sedangkan untuk kg berikutnya dihitung Rp 2 ribu/kg. Jadi jika kita kirim paket beratnya 1 kg maupun 5 kg, ongkos kirimnya tetap dihitung Rp 25 ribu. Sedangkan kalau paket yang dikirim lebih dari 5 kg, ibaratnya 10kg, maka ongkos kirimnya jadi lebih murah, karena 5 kg berikutnya hanya dihitung Rp 2 ribu/kg. Sehingga paket dengan berat 10 kg hanya membayar Rp 35 ribu. Sedangkan jika dihitung dengan tarif progresif seharusnya ongkos kirimnya Rp 50 ribu. Jadi ongkir regresif ini lebih tepat untuk paket yang beratnya di atas 5 kg, karena makin berat paket, hitungan ongkirnya menurun. Bahkan ada perusahaan cargo yang menetapkan berat minimal 30 kg sebagai dasar perhitungan ongkos kirimnya.
Perusahaan jasa pengiriman yang menggunakan ongkos regresif ini antara lain Dakota cargo, Indah cargo.
3. Biaya kirim berdasar volume (volumetrik)
Sesekali paket yang kita kirim berat dan ukurannya tidak seimbang. Ukurannya besar namun beratnya ringan. Contohnya ada paket yang berukuran 47x30x25 cm (panjangxlebarxtinggi), tapi beratnya hanya 1 kg. Dalam hal ini jika di praktikkan ongkos kirim berdasarkan berat riil, maka pihak jasa pengiriman akan merasa dirugikan. karena dengan ukuran paket yang besar akan membutuhkan tempat yang cukup banyak dan mungkin resikonya akan ebih besar, padahal ongkos kirimnya kecil karena beratnya ringan. Dalam soal ini, pihak jasa pengiriman akan menerapkan tarif berdasarkan volume.

Berikut rumus menghitung paket volumetrik adalah :

Panjang (cm) x Lebar (cm) x Tinggi (cm)
-----------------------------------------------------   X1kg
                        6000
Cara menghitung ongkos kirim paket secara volumetrik.
Perhitungan tarif secara volumetrik adalah panjang kali lebar kali tinggi lalu dibagi 6000. Misalnya tadi paket dengan ukuran 47x30x25 cm, maka hasilnya adalah 5,87 kg, jika dibulatkan akan menjadi 6 kg. Jadi dengan tarif volumetric ini, paket tersebut biaya pengirimannya akan dihitung sebagai paket dengan berat 6 kg dikalikan tarif per kg.

Rumus paket volumetrik tersebut digunakan oleh TIKI, JNE, PT Pos dan mungkin juga banyak agen jasa pengiriman lainnya menggunakan rumusan yang sama. Namun untuk agen pengiriman Star Cargo, Indah Cargo maupun Maxindo Cargo, mempunyai rumusan tarif volumetrik yang berbeda, yaitu :

Panjang (cm) x Lebar (cm) x Tinggi (cm) : 4000 = Berat (kg)
Jadi yang menjadi perbedaannya adalah pada angka pembaginya yang lebih kecil, yaitu 4000. Dengan angka pembagian yang lebih kecil, maka hasilnya akan lebih besar. Misalnya paket ukuran 47x30x25 cm tadi diterapkan dengan rumusan ini, maka hasilnya adalah 8,81 kg atau dibulatkan 9 kg. Namun perlu diingat, sama halnya bila ketiga agen pengiriman tersebut menerapkan angka pembagi yang lebih kecil maka pada umumnya mereka melayani paket dalam garis yang besar dengan berat rata-rata puluhan kg per paket/koli dan hitungan per kg nya relatif kecil.karena di pasaran kebanyakan para pedagang atau pengusaha grosir, bukan retail.
Untuk menentukan apakah suatu paket akan dikenakan tarif berdasar berat riil atau tarif volumetrik adalah dilihat mana yang lebih besar ongkos kirimnya. Kalau sebuah paket berat riil atau nyatanya hanya 2 kg, sedangkan perhitungan volumetriknya hanya 4 kg, tentu saja yang digunakan adalah yang lebih besar.
Tentu saja lazimnya pihak pengirim paket akan merasa keberatan dan bahkan protes dengan pengenaan tarif volumetrik ini karena ia merasa harus membayar lebih mahal. Untuk mengurangi resiko terkena tarif volumetrik ini, kepada pengirim kita bisa menyarankan agar :
- Menggunakan kemasan atau dus yang sesuai dengan besarnya barang, jangan memakai kemasan yang terlalu besar/longgar. Kecuali jika penggunaan kemasan/dus atau paking kayu dibutuhkan untuk melindungi paket agar tidak mudah rusak karena faktor benturan.
- Usahakan agar paket bisa diringkas agar tidak memakan tempat.

Sekian informasi yang bisa saya share, semoga bermanfaat dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar