Ongkos kirim Jakarta ekpedisi Jakarta bali - Apakah kalian suka menggunakan jasa pengiriman barang? Bagi
yang tahu tentu pastinya tak asing lagi kan! Yaps sekarang banyak sekali jenis
dan layanan jasa pengiriman barang yang bisa kalian gunakan sesuai dengan
kebutuhan anda. Namun seiring berjalannya waktu dan kebutuhan tentu kita harus
lebih teliti dan jelih dalam pengeluaran, namun pada saat mengirim paket anda
tidak mengetahui berapa biaya yang harus anda keluarkan untuk mengirim paket
tersebut, kali ini saya akan berbagai informasi mengenai ongkos kirim paket
sesuai dengan kebutuhan anda!
1. Biaya kirim
Progresif
Yaitu ongkos kirim yang di hitung berdasarkan berat paket barang anda secara flat. Makin berat paket ini ,maka ongkos kirim nya makin besar juga. Namun jika ongkos kirim ke suatu tempat ditetapkan Rp 5 ribu/kg, dan anda akan mengirim paket sebesar 5kg, maka ongkos kirim yang harus anda bayar adalah (5x5 ribu) Rp 25 ribu. Pada umumnya perusahaan jasa kurir menerapkan tarif progresif ini, misalnya TIKI, JNE, DHL, Pandu Logistic, dsb.
Yaitu ongkos kirim yang di hitung berdasarkan berat paket barang anda secara flat. Makin berat paket ini ,maka ongkos kirim nya makin besar juga. Namun jika ongkos kirim ke suatu tempat ditetapkan Rp 5 ribu/kg, dan anda akan mengirim paket sebesar 5kg, maka ongkos kirim yang harus anda bayar adalah (5x5 ribu) Rp 25 ribu. Pada umumnya perusahaan jasa kurir menerapkan tarif progresif ini, misalnya TIKI, JNE, DHL, Pandu Logistic, dsb.
2. Biaya kirim regresif
Yaitu ongkos kirim yang di hitung secara flat berdasarkan berat total paket, maka pada tarif regresif ini, ongkos kirim akan di tetapkan berdasarkan perhitungan ongkos minimal (minimun charge). Paket sampai dengan berat tertentu, ongkos kirimnya tetap, tetapi selebihnya dihitung dengan nominal tertentu yang lebih kecil. Sehingga makin berat paket, perhitungan ongkos kirimnya menurun, sehingga disebut regresif.
Yaitu ongkos kirim yang di hitung secara flat berdasarkan berat total paket, maka pada tarif regresif ini, ongkos kirim akan di tetapkan berdasarkan perhitungan ongkos minimal (minimun charge). Paket sampai dengan berat tertentu, ongkos kirimnya tetap, tetapi selebihnya dihitung dengan nominal tertentu yang lebih kecil. Sehingga makin berat paket, perhitungan ongkos kirimnya menurun, sehingga disebut regresif.
Contohnya ongkos
kirim ke suatu tempat ditetapkan Rp 25 ribu untuk berat paket 5 kg pertama, sedangkan
untuk kg berikutnya dihitung Rp 2 ribu/kg. Jadi jika kita kirim paket beratnya
1 kg maupun 5 kg, ongkos kirimnya tetap dihitung Rp 25 ribu. Sedangkan kalau
paket yang dikirim lebih dari 5 kg, ibaratnya 10kg, maka ongkos kirimnya jadi
lebih murah, karena 5 kg berikutnya hanya dihitung Rp 2 ribu/kg. Sehingga paket
dengan berat 10 kg hanya membayar Rp 35 ribu. Sedangkan jika dihitung dengan
tarif progresif seharusnya ongkos kirimnya Rp 50 ribu. Jadi ongkir regresif ini
lebih tepat untuk paket yang beratnya di atas 5 kg, karena makin berat paket,
hitungan ongkirnya menurun. Bahkan ada perusahaan cargo yang menetapkan berat
minimal 30 kg sebagai dasar perhitungan ongkos kirimnya.
Perusahaan jasa
pengiriman yang menggunakan ongkos regresif ini antara lain Dakota cargo, Indah
cargo.
3. Biaya kirim
berdasar volume (volumetrik)
Sesekali paket yang kita kirim berat dan ukurannya tidak seimbang. Ukurannya besar namun beratnya ringan. Contohnya ada paket yang berukuran 47x30x25 cm (panjangxlebarxtinggi), tapi beratnya hanya 1 kg. Dalam hal ini jika di praktikkan ongkos kirim berdasarkan berat riil, maka pihak jasa pengiriman akan merasa dirugikan. karena dengan ukuran paket yang besar akan membutuhkan tempat yang cukup banyak dan mungkin resikonya akan ebih besar, padahal ongkos kirimnya kecil karena beratnya ringan. Dalam soal ini, pihak jasa pengiriman akan menerapkan tarif berdasarkan volume.
Sesekali paket yang kita kirim berat dan ukurannya tidak seimbang. Ukurannya besar namun beratnya ringan. Contohnya ada paket yang berukuran 47x30x25 cm (panjangxlebarxtinggi), tapi beratnya hanya 1 kg. Dalam hal ini jika di praktikkan ongkos kirim berdasarkan berat riil, maka pihak jasa pengiriman akan merasa dirugikan. karena dengan ukuran paket yang besar akan membutuhkan tempat yang cukup banyak dan mungkin resikonya akan ebih besar, padahal ongkos kirimnya kecil karena beratnya ringan. Dalam soal ini, pihak jasa pengiriman akan menerapkan tarif berdasarkan volume.
Berikut rumus
menghitung paket volumetrik adalah :
Panjang (cm) x
Lebar (cm) x Tinggi (cm)
----------------------------------------------------- X1kg
6000
Cara menghitung
ongkos kirim paket secara volumetrik.
Perhitungan tarif secara
volumetrik adalah panjang kali lebar kali tinggi lalu dibagi 6000. Misalnya
tadi paket dengan ukuran 47x30x25 cm, maka hasilnya adalah 5,87 kg, jika dibulatkan
akan menjadi 6 kg. Jadi dengan tarif volumetric ini, paket tersebut biaya pengirimannya
akan dihitung sebagai paket dengan berat 6 kg dikalikan tarif per kg.
Rumus paket
volumetrik tersebut digunakan oleh TIKI, JNE, PT Pos dan mungkin juga banyak
agen jasa pengiriman lainnya menggunakan rumusan yang sama. Namun untuk agen
pengiriman Star Cargo, Indah Cargo maupun Maxindo Cargo, mempunyai rumusan
tarif volumetrik yang berbeda, yaitu :
Panjang (cm) x
Lebar (cm) x Tinggi (cm) : 4000 = Berat (kg)
Jadi yang menjadi perbedaannya
adalah pada angka pembaginya yang lebih kecil, yaitu 4000. Dengan angka pembagian
yang lebih kecil, maka hasilnya akan lebih besar. Misalnya paket ukuran
47x30x25 cm tadi diterapkan dengan rumusan ini, maka hasilnya adalah 8,81 kg
atau dibulatkan 9 kg. Namun perlu diingat, sama halnya bila ketiga agen
pengiriman tersebut menerapkan angka pembagi yang lebih kecil maka pada umumnya
mereka melayani paket dalam garis yang besar dengan berat rata-rata puluhan kg
per paket/koli dan hitungan per kg nya relatif kecil.karena di pasaran
kebanyakan para pedagang atau pengusaha grosir, bukan retail.
Untuk menentukan
apakah suatu paket akan dikenakan tarif berdasar berat riil atau tarif
volumetrik adalah dilihat mana yang lebih besar ongkos kirimnya. Kalau sebuah
paket berat riil atau nyatanya hanya 2 kg, sedangkan perhitungan volumetriknya
hanya 4 kg, tentu saja yang digunakan adalah yang lebih besar.
Tentu saja
lazimnya pihak pengirim paket akan merasa keberatan dan bahkan protes dengan
pengenaan tarif volumetrik ini karena ia merasa harus membayar lebih mahal.
Untuk mengurangi resiko terkena tarif volumetrik ini, kepada pengirim kita bisa
menyarankan agar :
- Menggunakan
kemasan atau dus yang sesuai dengan besarnya barang, jangan memakai kemasan
yang terlalu besar/longgar. Kecuali jika penggunaan kemasan/dus atau paking
kayu dibutuhkan untuk melindungi paket agar tidak mudah rusak karena faktor
benturan.
- Usahakan agar
paket bisa diringkas agar tidak memakan tempat.
Sekian informasi
yang bisa saya share, semoga bermanfaat dan terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar